Anak-anak Terakhir Pulau Nokdo Korea Selatan

Bagi Chan-hee, Nokdo adalah rumahnya walaupun tanpa tambahan teman baru. Dia tidak suka Seoul karena sangat ramai, berisik, dan udaranya tidak bagus.

Rumah rumah di Pulau Nokdo, Korea Selatan.(@Reuters/Kim Hong Ji)

BNOW ~ Di usianya yang kini menginjak 10 tahun, Lyoo Chan-hee berharap dia tidak termasuk salah satu dari tiga anak sekolah terakhir yang bermain di pantai Pulau Nokdo.

“Akan sangat bagus jika saya memiliki lebih banyak teman di sini karena saya dapat memiliki lebih banyak pilihan untuk bermain,” ujar Chan-hee.

Keinginan Chan-hee sepertinya tak akan pernah terwujud. Pulau Nokdo, yang berjarak sekitar 75 menit naik feri dari Boryeong di pantai barat Korea Selatan, hanyalah pulau dengan segelintir anak-anak.

Pulau nelayan yang dulu semarak itu kini secara drastis mengalami kemerosotan dari segi demografis–sebuah krisis yang secara umum sedang berlangsung di Korea Selatan.

Jumlah penduduk Nokdo kian hari semakin berkurang. Tingkat kelahiran menurun, banyak penduduk pergi meninggalkan pulau.

Itu sebabnya, teman bermain sehari-sehari Chan-hee selain adik-adiknya, Chae-hee dan Ye-hee, adalah Kim Si-young. Pria “senior” Nokdo berusia 66 tahun ini salah seorang dari sekitar 100 penduduk kampung nelayan tersebut.

“Dia (Kim) selalu menelepon saya dan berbagi setiap kali dia sedang makan sesuatu yang enak,” ujar Chan-hee kepada Reuters awal Maret lalu, saat kedua sahabat itu berbagi tiram panggang di tepi pantai.

“Itu tidak bohong,” kata Kim. “Saya juga bermain bola dan bulu tangkis dengan Chan-hee. Saya selalu kalah.”

♥♥♥

Jauh dari pantai dan Chan-hee, di rumahnya, Kim membuka-buka lagi album foto yang memperlihatkan suasana kemeriahan pada hari pekan olahraga di sekolah Nokdo. Di bawah siraman matahari ratusan orang bergembira sambil bersulang arak beras.

Gambar-gambar yang pudar dari 40 tahun lalu itu membuat mata Kim berlinang kenangan. Sekolah itu ditutup sejak 2006 setelah beberapa dekade sebelumnya urbanisasi nasional Korea Selatan menghantam Pulau Nokdo.

Kim menangis tiada henti saat sekolah ditutup. “Saya ingin melindungi Nokdo tetapi menyedihkan melihat semakin sedikit orang di sini.”

Baca Juga: Korea Selatan Luncurkan Kapal Selam Berbobot 3.000 Ton

Penurunan populasi Nokdo merangkum kemerosotan demografis negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia itu, untuk pertama kalinya sejak tahun lalu. Menurut Bank Dunia, Korea Selatan kini menjadi negara yang penuaan populasinya tercepat di dunia dengan tingkat kelahiran terendah pada 2020.

“Begitu banyak kota kecil yang berisiko menghilang. Laju penuaan [penduduk] dan penurunan kelahiran adalah yang terburuk di sini di antara [negara-negara anggota] OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi),” ujar Choi One-lack, peneliti demografi di Institut Riset Ekonomi Korea.

Sementara itu, data statistik Korea Selatan menunjukkan, tingkat kesuburan penduduk turun dari 4,5 pada 1970 menjadi 0,84 pada 2020.

Ekonomi Korea Selatan bangkit sejak 1970-an dan menghasilkan pabrikan kelas dunia seperti Samsung Electronics dan Hyundai Motor. Seiring dengan itu, banyak perempuan Korea Selatan memasuki dunia kerja dan pemerintah memulai kampanye keluarga berencana, termasuk sterilisasi, yang berlaku hingga 1980-an.

“Ketika menjalani wajib militer, beberapa dari kami biasa menjalani vasektomi (operasi memandulkan pria) untuk mengekang pertumbuhan populasi.”

Chan hee dan Kim Si hu, 9 tahun, bermain lompat tali pada hari pertama sekolah di Pulau Nokdo, Korea Selatan.(@Reuters/Kim Hong Ji)
Chan hee dan Kim Si hu, 9 tahun, bermain lompat tali pada hari pertama sekolah di Pulau Nokdo, Korea Selatan.(@Reuters/Kim Hong Ji)

Baru-baru ini, melonjaknya harga rumah di wilayah metropolitan Seoul–tempat hampir setengah dari 51 juta penduduk Korea Selatan tinggal–menjadi penyebab lebih sedikit bayi yang lahir. Tahun lalu, pandemi corona membuat pasangan enggan menikah dan memiliki bayi.

Akibat penurunan populasi, Choi memperkirakan Korea Selatan akan menghadapi masalah serius soal tenaga kerja. “Kehilangan tenaga kerja akan menjadi pukulan lebih besar bagi negara-negara seperti Korea Selatan, daripada katakanlah Australia atau negara-negara kaya sumber daya lainnya. Karena tulang punggung mesin pertumbuhan [ekonomi] di sini adalah tenaga kerja dan teknologi,” ungkapnya.

Untuk menambah jumlah tenaga kerja, pemerintah berencana mendorong lebih banyak perempuan dan lansia bekerja. Selain itu, membuat visa baru untuk menarik minat para ekspatriat profesional.

Baca Juga: Pasukan Iran ‘Bajak’ Kapal Tanker Korea Selatan

♥♥♥

Di Nokdo, ayah Chan-hee, Lyoo Geun-pil, 42 tahun, salah seorang penduduk pulau yang lebih muda. Lyoo bekerja sebagai pendeta di satu-satunya gereja di pulau itu sejak 2016.

Dia menggambarkan Nokdo sebagai “tempat surgawi” karena ketiga anaknya dapat berlarian dengan bebas. Lyoo hanya khawatir di mana mereka dapat menemukan kambing liar atau burung camar untuk dikejar, daripada memperhatikan lalu lintas.

Dia berencana tinggal di Nokdo selama posisi pastoralnya mengizinkan. Namun Lyoo sadar keluarganya tak dapat bertahan selamanya di pulau itu. Dua tahun lagi, anak pertamanya, Chan-hee, harus masuk sekolah menengah. Selama ini, fasilitas belajar untuk ketiga anaknya hanya sebuah kelas kecil sementara dan seorang guru yang dikirim dari daratan.

“Saya juga khawatir tempat ini akan segera hilang,” Lyoo mengungkapkan firasat yang kini meresahkan ratusan penduduk kota pedesaan di seluruh Korea Selatan.

“… Saya ingin memberikan harapan (kepada orang-orang di pulau) dengan menemukan cara memberikan pendidikan sekolah menengah kepada Chan-hee dari sini,” ungkap Lyoo.

Sementara bagi Chan-hee, Nokdo adalah rumahnya walaupun tanpa tambahan teman baru. Dia tidak suka Seoul karena sangat ramai, berisik, dan udaranya tidak bagus.

“Di Nokdo tidak ada lalu lintas, tidak berisik, dan udaranya bersih. Aku bisa lebih aktif bermain di luar, jadi aku suka di sini.”[]

Diperbarui pada ( 13 Maret 2024 )

Facebook Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *