Breedie

Bukan situs luar negeri, berisi konten yang easy but spicy



About page

© 2021 Breedie - All Rights Reserved

I’m Still Here — Chapter 16

Kedua burung itu sudah mati. Kepala mereka terpuntir hingga menghadap ke belakang. Isi perut keduanya tertekan keluar.

Novela Misteri I'm Still Here. Ilustrasi: Freepik
Novela Misteri I’m Still Here. Ilustrasi: Freepik

Kemudian datanglah pagi tak terlupakan itu. Hari ketigapuluh tiga keempat gadis itu tinggal serumah.

Ujian Tengah Semester sedang berlangsung. Nada masih ada beberapa ujian mata kuliah teori, Eri dan Dini tinggal dua atau tiga lagi. Sedangkan Yasmin sudah selesai semua.

Selesai Subuh, hari itu, Nada dan Eri kembali berbaring-baring sambil membaca. Nada sedang menceritakan rencananya melamar program S2 di universitas yang sama dengan tempat Ronggur akan mengambil program post doktoral. Sekonyong-konyong jeritan Yasmin yang menyayat hati membelah suasana.

Bagai dilontarkan pegas Nada dan Eri melompat dari tempat tidur, lari memburu suara Yasmin. Di ruang tengah mereka berpapasan dengan Dini yang masih mengenakan telekung, dan sedang lari ke arah dapur, dari mana suara Yasmin terdengar.

“Yayas—“ ketiganya terhenti di ambang jalan ke dapur. Tertegun.

Yasmin duduk lunglai di lantai, dalam tangannya ia membuai dua tubuh mungil berbulu hijau dan merah. Ia mendongak, menatap Dini dengan mata berlinang.

“Kak… Laila dan Majnun….”

Kedua burung itu sudah mati. Kepala mereka terpuntir hingga menghadap ke belakang. Isi perut keduanya tertekan keluar, membasahi telapak Yasmin dengan noda darah bercampur tinja. Wajah Yasmin kerut merut menahan beribu perasaan. Perlahan Nada menghampiri, duduk di sampingnya di atas lantai.

“Di mana mereka tadi, Yas?” tanyanya lembut.

“Di bawah sangkarnya,” suara Yasmin parau, menggeletar. “Aku ke sini mau memeriksa makanan mereka, dan mau mengajak Kak Dini menggotong sangkar mereka ke belakang. Aku sudah nggak enak hati, karena Majnun diam saja. Biasanya dia selalu ribut kalau mendengar aku keluar kamar. Waktu aku nyalakan lampu dapur, aku lihat dia… ya Allah….” pertahanan Yasmin runtuh. Tangisnya pecah. Bahunya tergoncang-goncang dalam sedu sedan hebat, sementara ia mendekapkan Laila dan Majnun ke dadanya. Nada memeluknya. Eri dan Dini cepat menghampiri, turut mendekapnya erat-erat.

Ketiganya membiarkan Yasmin menangis. Gadis itu menangis cukup lama, menyuruk di pangkuan Nada, tubuh kaku Laila dan Majnun tak lepas dari tangannya.

Setelah beberapa saat, tangis Yasmin mereda hingga tinggal sedu sedan perlahan. Dini mengusap-usap rambut gadis itu, menyodorkan secangkir air hangat.

“Minum dulu dik…,” suruhnya halus. Yasmin menerima cangkir itu, minum sedikit, lalu meletakkannya di lantai. Eri menyingkirkannya.

“Kak Eri,” suara Yasmin. “Coba lihat di bak cuci piring.”

“Kenapa Yas?” Eri terkejut.

“Lihat sajalah, Kak.”

Dengan gerak takut-takut Eri bangkit. Mengintai ke arah bak cuci. Seketika ia berseru, “Guustiii yaa Rabbiii….”

“Kenapa Er??” Nada dan Dini kaget. Eri mengangkat pecahan-pecahan porselen biru muda dari dalam bak cuci.

“Mug-ku…. Mug kesayangan aku, hadiah perpisahan kawan-kawan SMA….” Eri tercekat. “Kok bisa begini…. “

Yasmin menegakkan diri. Tatapnya berkeliling, memandangi teman-temannya satu persatu.

“Kita cari bubur ayam,” katanya tanpa konteks. Tapi ketiga temannya mengerti.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 15

Mereka menguburkan Laila dan Majnun di bawah kemboja mini. Yasmin membungkus mereka dengan sehelai handuk kecil, membaringkan keduanya berdampingan dalam lubang yang digali Nada. Ditancapkannya sebentuk batu di masing-masing ujungnya, lalu ditimbunkannya tanah ke atas kedua burung kesayangannya. Selama melakukan itu Yasmin tak bicara apa-apa. Ia juga tetap diam, hingga mereka tiba di lapak bubur ayam Monumen BLA.

Empat gadis itu makan dalam sunyi. Bayangan tubuh mungil Laila dan Majnun yang dicekik dan digencet sesuatu sampai mati terus menari dalam pikiran.

Yasmin tak menghabiskan buburnya. Ia menekuri teleponnya, beberapa kali mengetik, membaca, mengetik lagi. Lama setelah mangkok ketiga kawannya kosong, Yasmin masih mencoba menyuap. Tapi nampak bahwa pikirannya melayang ke mana-mana.

“Aku nggak selera lagi,” katanya setelah beberapa saat. Mendorong mangkoknya menjauh.

“Biar saja di situ, Yas,” ujar Eri. Ia sendiri menangis selama beberapa saat setelah menemukan mug kesayangannya hancur. Namun ia merasa bahwa apa yang menimpanya jauh lebih ringan daripada Yasmin. Eri bergidik mengingat darah di telapak tangan kawannya itu. Ada bentuk-bentuk berkeluk kekuningan, tempat usus kedua burung malang itu tertumpah.

“Kayaknya, lusa aku berangkat ke Rinjani, Kak,” kata Yasmin. Ia bicara sambil merunduk, memandangi taplak meja.

“Sama Firza?” tanya Dini.

“Nggak. Sama Ocha, Bambang, Gita…. Sidik dan Joe, mungkin,” Yasmin menyebutkan nama-nama teman satu timnya yang biasa. “Firza nggak bisa pergi. Dia masih ada ujian.”

“Oke,” kata Eri. “Hati-hati ya.”

Yasmin mengangguk.

“Kak Nada,” ia memanggil. Nada menoleh. Yasmin merogoh saku jaketnya. Saat keluar lagi, tangannya menggenggam sesuatu berwarna merah. “Lihat.”

Yasmin membuka tangannya. Meletakkan benda yang digenggamnya di meja, lalu mengelus, meratakannya. Mata Nada perlahan membesar. Benda itu pashmina Yasmin. Salah satu yang paling kerap dipakainya, karena warnanya yang merah sesuai dengan warna jaket himpunannya. Pashmina itu cabik-cabik. Kelihatannya bukan digunting atau dipotong dengan sesuatu yang tajam, melainkan ditarik hingga koyak. Pastilah yang merobeknya kuat sekali, karena kain itu kini nampak seperti rumbai-rumbai.

“Aku lupa membawa pashmina ini ke kamar semalam. Ketinggalan di karpet ruang tengah. Tadi subuh sebelum ke dapur, aku ke ruang tengah mencarinya. Dan kutemukan sudah compang-camping seperti ini,” kata Yasmin. Eri menutup mulutnya dengan dua tangan. Dini mengeluarkan suara seperti tercekik. Yasmin belum selesai. Matanya tajam menatap Nada.

“Masih ada lagi,” katanya. “Aku temukan ini tergantung di meja gambar Kakak.”

Jantung Nada mencelos. Di tangan Yasmin tergeletak seuntai kalung putih. Liontinnya batu kecubung ungu jernih sebesar telur burung puyuh, berpendar dalam cahaya matahari. Di seputar kecubung itu batu-batu biru mungil dipasang bersama dengan kristal-kristal putih seperti gula pasir, membentuk sulur-sulur tanaman dan bunga-bunganya.

“Dari mana itu,” suara Dini kecut. “Itu bukan punyamu, kan, Nad?”

Nada menggeleng. Ia menelan ludah.

“Aku nggak pernah punya kalung kayak gini,” katanya lirih. Yasmin menyingkirkan kalung itu ke tepi, lalu menarik tangan Nada.

“Kak,” ujarnya. Suaranya berat dan kesat. “Kurasa ada sesuatu di rumah itu yang suka pada Kakak, tapi benci padaku dan Kak Eri.”

Kepala Nada tersentak mendongak.

“Maksudmu??”

Yasmin memandang Eri.

“Ceritakan tentang bola tanah itu, Kak.”

Eri mendeham.

“Beberapa hari lalu, aku sedang menonton teve. Yasmin dan Dini ada juga, tapi kamu belum pulang, Nad,” Eri memulai. “Nah. Waktu itu ada yang melemparku dari belakang. Dua kali. Dengan gumpalan tanah.”

“Apa??”

“Gumpalan tanah yang dikepal jadi bola,” Eri menegaskan. “Dua kali, Nad.”

“Nggak ada siapa-siapa di ruang tengah kecuali Kak Eri,” kata Yasmin. “Kak Dini lagi bikin nasi goreng. Aku lagi pipis. Tapi ada yang melempar Kak Eri, dan buktinya ada. Dua bola tanah di karpet.” Yasmin membuka galeri teleponnya, memperlihatkan pada Nada. Tampak dua bola tanah coklat hampir sebesar bola pingpong menggeletak di atas bunga-bunga merah biru karpet ruang tengah.

“Ta—tapi…. dari mana kau tahu bahwa sesuatu itu suka padaku tapi benci pada kalian?” Nada mencoba meluruskan pikirannya sendiri.

“Karena dia meninggalkan kalung ini di meja gambar Kak Nada. Sedangkan Kak Eri dilempar, mugnya dipecahkan, dan aku, Laila Majnun—“ Yasmin berhenti. Menarik nafas, lalu melanjutkan, ”Lagian, setiap kali Kak Eri dan aku pulang ke rumah, sprei kami berantakan. Dan selalu ada kecoak mati di atasnya.”

Nada seperti disambar geledek tengah hari. Dia tak tahu itu, karena selalu pulang paling lambat.

“Yang bener Yas!?”

Sekali lagi Yasmin memperlihatkan galeri teleponnya. Benda-benda oval coklat di atas sprei Tonari no Totoro Yasmin itu mempunyai enam kaki dan dua sungut. Jelas bukan buah kurma.

Nada lemas. Disandarkannya sikutnya ke meja, telapak tangannya menyangga kening.

“Setelah pulang dari Rinjani aku mau pindah, Kak,” suara Yasmin berubah, penuh air mata. “Maafkan aku. Aku sayang sekali sama Kakak semua, tapi aku takut tinggal di paviliun itu lagi.” Yasmin tersedu. “Kakak semua juga harus pindah. Ada sesuatu yang nggak baik di paviliun itu Kak. Aku nggak tahu apa, tapi aku bisa rasakan bahwa dia sanggup mencelakai kita semua. Lihat apa yang terjadi dengan Laila dan Majnun.”

“Yayas betul, Nad,” kata Eri. “Ayo kita cari kosan lain.”

Komentar

Terpopuler Sepekan