Breedie.com

Bukan situs luar negeri,
berisi konten yang easy but spicy



Sajian Fiksi

Profile

© 2021 Breedie - All Rights Reserved. RSS Webdev

Honda CB “Babi” 125 dan Ratapan Gatal di Garasi

"Aku takut jika mesti ke bengkel, mesinku yang masih asli ini terkena elusan kasar tangan tukang bengkel."

Honda CB125. (© Breedie)
Honda CB125. (© Breedie)

Honda CB itu kini terkulai sepi di ruang tamu yang mendadak berubah jadi garasi. Terkulai barangkali tak cocok karena CB itu berdiri di atas cagak dua yang dihiasi karat.

Kecoa pincang, tikus-tikus licik, cicak-cicak jahanam, laba-laba pemalu kini menjadi kawan barunya. Dari jauh ia begitu mirip benda hasil jarahan perang. Orang-orang tanpa bakat seni yang tinggi bakal mengira itu cuma hiasan dinding. Tapi saat didekati, dia akan memperkenalkan dirinya orang akan tahu bahwa itu motor.

Bukan jam dinding yang tak pernah bicara. (nggak ada hubungannya)

Dia, Honda CB 125 kelahiran 1979. Zaman ketika Soeharto dan Ali Murtopo sedang bergembira ria menggalakkan program keluarga berencana dan kamtibsus. Piye, enak jamanku to! Dia lahir di sebuah kota di Jepang, berkat kepiawaian dan tangan besi yang dimiliki Soichiro Honda.

Seri atau variannya 125, tapi ia juga punya julukan aneh: CB Babi. Dari seorang Paman ketiga di kampung tinggi Rembele, Bener Meriah, CB itu kupingit, berkat perantara sang CEO Breedie yang telah berbaik hati “meracuniku” dengan sempurna hingga terpikat pada “kuda lawas” tersebut.

Warna aslinya merah gincu. Tapi nyaris tidak ada bekas merah sedikitpun di bodinya. Kecuali di tromol depan, itu pun bukan cat bawaan. Tangki yang ia boyong sekarang, bukan asli miliknya. Maka dari itu, mahar CB 125 tersebut sangat lebih murah ketimbang DP rumah nol persen.

Tapi, kenapa julukannya menjadi haram jadah begitu? Nanti kujelaskan, kalau teringat, ya.*

Yang jelas, aku menerimanya dalam kondisi awut-awutan. Ini pun masih lebih baik ketimbang kondisi awal sebelum si Babi tiba di rumah. Penampakan pertama lewat Telegram, cuma mesin saja yang dimasukkan dalam karung. Persis kayak semangka yang mau dijual.

Setelah nego-nego santai dan sempat salah harga, si Paman berbaik hati melepaskan CB tersebut. Sebagai pendongkrak semangat diriku yang sangat nyubi soal motor, beliau memberikan alakadar perintilan bodi secukupnya. Sepatutnya aku sangat beterima kasih soal itu, karena pabila Paman hanya mengirimkan mesin saja, tentu akan kujadikan sebagai mesin sanyo di rumah.

Blok mesin Honda CB 100. (© Breedie)

Setelah mesin dipasang ke bodi, muncul masalah pertama. Knalpotnya bocor, mesinnya banjir bandang. Saban kali diengkol–itu pun dengan merelakan betis beberapa kali patok karena kerasnya kick starter, asap putih akan mengepul. Amboi. Padahal si Babi bukan perokok, tapi paru-parunya ternyata lebih bermasalah ketimbang paru-paru perokok.

Kepulan asapnya juga mengingatkan pada pembukaan pentas seorang pesulap. Dramatis!

Mengengkolnya juga butuh tenaga ekstra. Minimal poding dua telur gajah, minum hemaviton jreng, agar betis tak loyo.

Karena jarak yang jauh, si Babi dikirim dengan angkutan sejuta umat L300. Dia didudukkan di jok paling belakang. Ban depannya dicopot agar muat.

Setelah mabuk darat selama enam jam perjalanan, si Babi tiba di rumah dengan selamat tapi sedikit meriang. Bersama tangki, setang, dua ban, dan rem belakang secukupnya. Yang lain tidak. Tapi sudah layaklah untuk disebut sepeda motor.

Test drive pertama, suaranya fals dihiasi batuk-batuk kecil berdahak berasap. Sefals Iwan Fals saat muda dan kribo. Setelah itu suaranya gahar, mungkin seperti Ucok AKA. Kalau sesekali si Babi meraung, lebih tepatnya melenguh, barangkali itu hanya bentuk keangkuhannya pada dunia. Terutama pada aspal bebal yang mungkin tak rela dipijak motor setua itu.

Si Babi memang jarang menapak aspal. Riwayat tentangnya menyatakan ia terbiasa bergumul di tanjakan jalan kebun kopi yang berlumpur. Wajar bila ia sedikit nervous melihat aspal.

Tapi suaranya memberi isyarat kalau dia masih bernyawa.

Seperti mainan tua, CB 125 itu langsung menyedot perhatian beberapa orang. Hanya saja mereka geleng-geleng kepala ketika melihat kondisinya. “Can habis uang banyak tuk perbaikinya, ni”. “Apa masih ada yang jual spare part-nya?”. “Mesin, bagus, keknya, tapi itunya, udah aus”. Dan lain-lain.

Komentar-komentar itu wajar dan sebagian besar benar. Apa sih yang bisa diharapkan dari seonggok motor tua?

Beberapa orang yang paham mesin bahkan menambahkan, si Babi mesti dibawa ke dokter bedah spesial mesin untuk dioperasi. Minimal, mesinnya yang kebul itu dioprek agar tidak batuk lagi. Jangan-jangan, di dalamnya telah bersarang tarantula, kecoa, atau satwa-satwa lain yang jarang jadi piaraan manusia.

Lalu, setelah itu didandani beragam aksesoris secukupnya agar ia sangat layak disebut motor.

Si Babi juga tak punya jok. Alat yang sangat vital untuk sepeda motor jenis apa pun karena tanpa itu, pantat penunggang akan hancur-hancuran dibuatnya. Aku sempat tanya-tanya ke seorang tukang jok. Dari diskusi hangat kami, beliau mengusulkan si Babi dibawa saja ke bengkelnya agar jok diset sesuai selera. Tapi ini bukan perkara mudah. Jarak bengkel tukang jok ke rumah lebih dari dua marhalah. Membawa si Babi sejauh itu perlu banyak perhitungan. Selain jok, bagaimana kalau ia rewel di jalan karena mesinnya masih centang perenang?

Penampakan CB “Babu” 125

Akhirnya, aku dan tukang jok hanya bercerita tentang kesulitan menangani motor tua, dan cerita-cerita lain yang sesungguhnya sangat menarik kalau ada suguhan kopi. Tanpa berjanji, aku bilang akan mengukur saja ukuran bodi sebagai acuan membuat jok tanpa membawa si Babi ke sana.

Selain itu, aku juga mencari saran ke beberapa orang tentang bengkel yang pas untuk mengoprek mesinnya. Tentu agar tidak salah pilih bengkel supaya tidak ada hewan yang tersakiti di kemudian hari.

Wak Udin, tukang bengkel dekat rumah menyarankan beberapa bengkel yang ia tahu di seputaran Lhokseumawe. Dia menyebut beberapa nama bengkel dan tukangnya, yang, jelas-jelas tidak kuketahui dan kukenal.

Dia juga menyarankan beberapa tips apa yang mesti dilakukan untuk menangani dan menanggulangi Honda CB 125 tersebut. Kenapa tidak kepada Wak Udin saja aku menyerahkan CB itu untuk dioprek? Mungkin kalian bertanya-tanya. Dan aku juga sudah bertanya kepada beliau soal ini. Jawaban Wak Udin: “Aku gak bisa pegang mesin honda, apalagi CB, susah kali tu”.

Kalian pasti merasa aneh, kenapa seorang tukang bengkel mampu menjawab seperti itu. Itu tidak lain karena Wak Udin adalah tukang bengkel spesialis mesin mobil yang hobi naik vespa.

Hasil diskusiku dengan orang-orang di atas akhirnya kusampaikan ke si Babi melalui bahasa mesin. Ia oke-oke saja awalnya. Tapi mendadak pada suatu malam yang penuh bintang, ketika aku sedang kusyuk menikmati gudang garam merah, dia menggangguku dengan celotehan gatalnya.

“Tuan, jangan tuan bawa dulu aku ke bengkel. Bertahun-tahun aku tak mengenal bengkel. Aku takut jika mesti ke bengkel, mesinku yang masih asli ini terkena elusan kasar tangan tukang bengkel. Aku tidak akan terlihat orisinil lagi. Jati diriku sebagai motor tua akan tercabik-cabik”.

Aku berusaha menenangkannya. “Bi, secanggih apapun mesin, secantik apa pun motor, ya, tetap harus berurusan dengan bengkel. Apalagi motor tua sepertimu, mana mungkin kubawa ke salon untuk dipakaikan skin care. Jangan mentel gitu, dong, ah!”.

“Tttapi…tapi…Aku juga grogi, Tuan. Rasanya, jika Tuan membawaku ke bengkel sekarang, aku akan malu semalu-malunya dalam kondisi mati berdiri. Lihatlah aku yang compang-camping ini. Bagaimana jika betina-betina lain seperti Scoopy, Mio, Spin, atau Vario, melihat aku seperti ini? Rasanya kegagahanku yang kependam selama bertahun-tahun, sirna dalam sekejap oleh metik-metik 4.0 itu, Tuan”.

Aku tercenung mendengar semua itu. Tak kusangka CB Babi yang kupinang dari rimba Rembele itu menyimpan ratapan ala sinetron di balik rangka karatnya. Tapi, karena sudah tak tahan, dalam hati aku terpaksa menimpali. “Sudah bagus kau dikasih rangka dan ban, agar beda sama mesin pemotong rumput”.

Maka, sejak saat itu, kumasukkan dia ke sudut garasi. Kuberikan tempat khusus untuknya bertapa. Saat ini, di pikiranku, dia mesti kujauhkan dari pembahasan tentang bengkel, walaupun kuharap suatu saat ia bakal menarik ratapan gatalnya itu.

Selamat berteman nyamuk-nyamuk nakal, Bi! Bersama kita ‘kan menghadapi dunia, nanti! Karena, jika kubawa kau ke bengkel sekarang, DARI MANA DUITNYAAA?!

*Disebut CB Babi karena ini model CB 100 K5 (1980-1982) yang terakhir, terlahir antara gabungan mesin K5, rangka sudah GL100. Alasan lain, tenaga Honda CB varian 125 tenaganya kuat di antara CB yang lain. Padahal spesifikasi mesin sama. Ya, semacam tenaga babilah.
*Kepanjangan CB banyak versi: Contact Breaker, City Bike, Cinta Bersemi, Calon Beken, Cari Bersama

Komentar

Terpopuler Sepekan