Cerpen: Gute Nacht, Kamerad!

Kedua prajurit itu kini saling bertatapan.

Aneh, saat itu Zherkof malah tidak menemukan ketakutan yang sama di wajah temannya.

Ilustrasi Gute Nacht, Kamerad!

Dua prajurit sedang bersembunyi di balik gundukan bukit kecil, tempat mereka memantau musuh. Keduanya berasal dari kesatuan ‘divisi senapan ke-25’ Tentara Merah yang diminta untuk mengawasi serta melaporkan setiap gerakan pasukan Wehrmacht yang berkemungkinan lewat di area tersebut. Menurut memo dari mata-mata, pasukan Nazi sedang bergerak dari utara menuju ke titik pertahanan di selatan.

Mereka adalah Vladimir Zherkof dan Nikolav Gregory, yang telah mengambil posisi paling nyaman sejak datang ke tempat pemantauan lebih kurang selama dua jam lebih. Di atas gundukan itu terdapat dinding beton bekas reruntuhan bangunan peninggalan masa kekaisaran Rusia.

Dari balik tembok tersebut mereka bisa melihat dengan jelas hamparan padang rumput yang diterpa cahaya bulan berwarna perak gelap. Sementara menanti musuh, kedua prajurit itu berbincang-bincang untuk membunuh rasa bosan.

Zherkof bertubuh lebih kecil, tetapi umurnya jauh lebih tua daripada Gregory. Sementara Gregory merupakan pemuda berperawakan besar, tetapi pengecut. Namun, untuk perkara mengoceh, Zherkof terdengar lebih dominan.

Zherkof mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting karena tujuan sebenarnya yakni untuk mengisi kekosongan sebab Gregory hanya akan menularkan rasa takut yang sejak tadi sudah terlihat dari raut wajahnya.

“—lalu, bagaimana dengan ciuman pertamamu?” lagi-lagi Zherkof memancing Gregory.

“—hah?” sama seperti tadi, Gregory terlihat tidak siap oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh temannya.

“Oh—, ciuman pertamaku? Oh, iya—, itu kuambil dari seorang gadis dari Vyatskoye—” lanjut Gregory.

“Ingatkan aku siapa namanya tadi, bung?” sambung Zherkof.

“—aku tidak ingat, sepertinya Lubov—, ya, Lubov,” sahut Gregory.

“Kau sungguh lucu, kamerad, kau tidak ingat siapa pemberi ciuman pertamamu,” Zherkof menggelengkan kepala dengan kening berkerut.

“—tidak, tidak—, bukan itu maksudku,” Gregory terlihat gelisah.

Ia memutar kepalanya ke arah Zherkof sementara Zherkof malah terlihat membalas dengan raut wajah yang terkesan tidak mau tahu.

“—aku hanya sedang tidak fokus saat ini,” jawab Gregory.

“Oh Tuhan—, ayolah,” desak Zherkof,”

“Temanku, situasi memang tidak mungkin membuat kita fokus saat ini,” lanjut Zherkof lagi.

“—entahlah, kamerad, aku merasa belum siap dengan semua ini—”, sahut Gregory, membalikkan tubuhnya.

Baca Juga: Cerpen: Esa Historia

Dengan posisi seperti itu, Gregory bisa menatap langit yang membentang di atas mereka. Ia menyilangkan kedua lengannya dan menaruh kepalanya di sana.

“—aku tidak sepertimu. Aku bukanlah seorang pemberani,” lanjutnya lagi sambil menghela napas yang terdengar panjang dan penuh beban.

Zherkof terdiam. Ia membiarkan Gregory tenggelam dalam emosinya. Gregory ikut membisu dan tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Keduanya benar-benar tidak mengeluarkan kata-kata sepatah pun.

Hening.

“—kurasa semua orang punya rasa takut, teman. Aku juga. Itu wajar, bukan?” celetuk Zherkof tiba-tiba.

“Kau tahu, aku bahkan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berhenti jadi penjudi dan pemabuk yang menganggu serta segera memperbaiki hubunganku dengan ayahku jika aku selamat dari neraka yang sedang kita hadapi ini,” lanjut Zherkof.

“—kau masih memiliki orang tua, Greg?” tiba-tiba Zherkof bertanya, terkesan mengubah alur pembicaraan.

Sementara itu, Gregory belum menanggapi dan masih dalam posisi menyandarkan kepala di atas kedua lengannya. Ada jeda beberapa detik, sebelum pemuda itu menjawab pertanyaan tersebut.

“—ya, keduanya. Aku masih memiliki orang tua,” jawab Gregory,

“kau sendiri, apakah hubunganmu dengan ayahmu sedang tidak baik-baik saja?” tiba-tiba Gregory bertanya.

“—aku sudah tidak berbicara dengannya selama dua tahun terakhir,” jawab Zherkof.

“Sial, kini semuanya mulai terasa aneh dan tidak masuk akal,” tambah Zherkof.

“—aku juga sering bertengkar dengan ayahku karena hal-hal kecil,” timpa Gregory.

Zherkof terdiam.

“Aku bertengkar dengan ayahku karena hal-hal besar,” kata Zherkof.

“Itu menjadi masalah bagi kami selama bertahun-tahun,” lanjutnya.

“Ada apa. Apa yang terjadi?” Gregory tampak tertarik.

“Sudahlah, kurasa masalah ‘orang tua’ ini bisa kita simpan untuk topik perbincangan kita selanjutnya nanti,” lanjut Zherkof lagi.

Zherkof terdengar kesal pada dirinya sendiri setelah apa yang diungkapkannya barusan.

Suasana kembali hening.

“Lubov Dushenka,” tiba-tiba Gregory menyeletuk.

“—siapa?” Zherkof membalikkan kepala, sementara Gregory masih dengan posisinya semula, menyandarkan kepala ke atas lengannya sendiri dan menatap lurus ke langit sana.

“Gadis itu, ciuman pertamaku,” lanjut Gregory.

“—oh—” reaksi Zherkof tampak datar, kepalanya mengangguk kecil, sementara dengan sangat tiba-tiba, matanya mulai berada dalam mode fokus.

Laki-laki itu baru saja menangkap sebuah gerakan di kejauhan sana.

“—ada apa?” Gregory tertegun.

“Kau melihat sesuatu?” tanya Gregory setelah melihat temannya menunjukkan posisi siaga.

“—tidak, tidak— lanjutkan saja ceritamu,” jawab Zherkof, tetapi tetap tidak melepaskan pandangan dari lubang keker senapan runduknya.

“—oh, oke, baiklah—” Gregory menjawab dengan lugu.

“—tunggu, Greg, luruskan lututmu!” perintah Zherkof.

“Zherkof mempertajam matanya, “sialan, aku tidak bisa melihat apa-apa,” maki Zherkof dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Prajurit itu segera menyapu embun yang mulai menempel di kaca teleskop senapan runduk ‘Mosin-Nagant’-nya.

“—ada apa? Kau melihat mereka?” tanya Gregory dengan nada terkejut dan terdengar panik.

“Pelankan suaramu, mendekatlah ke sini,” perintah Zherkof.

Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Kedua prajurit itu menghujamkan tubuh masing-masing ke bumi. Bisa dibayangkan bahwa mereka saat ini berada di tengah hamparan padang rumput seluas 300 meter.

Semilir angin membuat hamparan rumput tersebut tampak bergelombang. Sekitar lima belas menit kemudian, setelah memastikan bahwa gerakan yang barusan dilihatnya bukan berasal dari musuh, Zherkof segera menarik napas dalam-dalam lalu melepaskannya secara perlahan, kemudian kembali menyapu embun yang hinggap di pangkal popor senapannya dengan lengan bajunya sendiri.

Kedua prajurit itu kini saling bertatapan.

Aneh, saat itu Zherkof malah tidak menemukan ketakutan yang sama di wajah temannya.

Gregory kini terkesan seperti ruang kosong yang tidak terisi oleh apapun.

“—Greg,” ujar Zherkof.

“Greg—?” temannya itu tidak menyahut.

“Hei—,” ia menepuk pundak temannya dengan ketukan kecil.

“Hah—! Apa?”

Zherkof baru sadar. Di bawah sinaran bulan, ia dapat melihat bibir temannya yang pucat.

“Kau tidak apa-apa, Greg?” tanya Zherkof.

“—ya, ya, tidak, aku tidak apa-apa—” jawab Gregory.

“Bersiaplah, Greg, ini sudah lewat tiga jam. Saatnya berganti sif,” Zherkof segera melipat matras, menyangkutkan kaitan selempang senapannya, bersiap beranjak dari tempat itu.

“—lantas, apa yang akan kita laporkan nanti?” tanya Gregory, ia masih belum bergerak dari tempatnya.

“Semuanya, Greg, apa lagi—?” Zherkof kini berada dalam posisi sedang mengikat tali sepatunya.

“—bagaimana dengan tentara-tentara Nazi itu?” Gregory kini ikutan mengemasi peralatannya.

“Mereka mungkin masih jauh, Greg, biarkan prajurit lain yang memantau. Untuk saat ini, tugas kita sudah selesai, sekarang bersiaplah,” Zherkof mulai menuruni gundukan kecil itu sedikit demi sedikit dengan bokongnya.

“—tetapi,” Gregory terlihat masih duduk seakan tidak berniat untuk ikut turun.

“—kau ikut atau tidak, Greg?” kata-kata Zherkof mulai terdengar seperti orang yang sedang kesal.

“—aku yakin mereka ada di sana,” kata Gregory.

Zherkof berhenti, lalu menatap temannya, “—kau yakin?” tanyanya.

“—iya—, tetapi—, entahlah, perasaanku berkata demikian,” jawab Gregory.

Zherkof terdiam, sesaat kemudian ia kembali mendaki gundukan itu di mana Gregory berada.

“Kau harus menjelaskan ini nanti, Greg. Tugas kita hanya memantau selama tiga jam. Kalau kita tidak segera kembali, maka kita dianggap tewas di dalam pertempuran. Ingat itu,” ujar Zherkof.

Zherkof benar, jika mereka tidak segera kembali dalam waktu yang telah ditetapkan, maka pasukan garis depan akan segera bergerak menyerang karena menganggap pasukan musuh telah memasuki wilayah perbatasan.

Di samping itu, ini berpotensi buruk karena minimnya daya serang akan merusak strategi “terkam” yang sejak awal telah mereka susun di bawah tekanan kekuatan persenjataan artileri yang kecil sebab semua serangan telah difokuskan di wilayah barat.

Baca Juga: Cerpen: Anomali dari Langit

Zherkof dan Gregory dikirim ke perbatasan hanya untuk mengawasi selama beberapa jam, tetapi tidak dibenarkan untuk melakukan gerakan apapun selama mereka di sana. Jika menemukan gerak-gerik musuh, mereka harus segera melapor ke pos pengintaian kedua. Itu saja.

Zherkof sebenarnya merasa kesal dengan Gregory karena saat ini sudah 45 menit berlalu dari batas waktu laporan yang telah ditentukan sebelum mereka digantikan oleh prajurit pengintai lainnya.

“—tidak ada apa-apa di sana, Greg, ayo,” kini Zherkof bersiap-siap untuk turun.

“—tunggu, tunggu, aku menangkap sesuatu,” tahan Gregory.

“—sudahlah, Greg, kalau kau mau tetap di sini, silakan, tetapi aku harus segera melapor,” Zherkof menuruni gundukan tersebut dengan cara setengah melompat agar bisa menghemat waktu, tetapi ia tiba-tiba mendengar letusan senapan.

Dengan segera, Zherkof pun menjatuhkan tubuhnya ke atas rumput, sementara Gregory melihatnya dari atas sana.

“—kau tidak apa-apa, Greg?” tanya Zherkof.

“Di mana posisi mereka? Kau bisa menangkap gerakan mereka?” lanjutnya.

Gregory tidak menyahut. Ia malah melihat Zherkof yang sedang rebahan sekitar sepuluh meter dari atas gundukan itu dengan tatapan yang aneh.

“—Greg, bodoh! ke sinilah, mereka bisa mengenaimu nanti!” perintah Zherkof, tetapi ia menangkap sesuatu yang sangat “dingin” dalam wajah temannya.

Itu sesuatu yang bisa dilihat dengan jelas di bawah cahaya bulan yang sedang menyinari hamparan padang rumput.

Sesuatu yang sangat kejam, dan tidak berperasaan.

“—tidak, teman, kaulah yang bodoh,” ucap Gregory dengan tangan yang masih mengacungkan pistol ke arah Zherkof.

“Kau—,” suara Zherkof tertahan, ada sesuatu yang terasa lembab di punggungnya.

“Gute Nacht¹, kamerad—.”

Tembakan yang baru saja didengarnya ternyata berasal dari Gregory, ditujukan untuknya.

Segalanya terlihat gelap.

Sementara itu, bulan purnama di atas sana tampak semakin membesar, dan membesar.

  1. Selamat malam (Jerman)

Diperbarui pada ( 20 Februari 2024 )

Facebook Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *