Strategi Kekebalan Kelompok Swedia Dinilai Gagal, Ekonomi Tetap Terpuruk

Bahkan tanpa lockdown, ekonomi Swedia terpukul. Catatan Google menunjukkan perjalanan ke tujuan ritel dan rekreasi di Stockholm turun 23 persen.

Ilustrasi varian baru virus corona. (@ft.com)

BNOW ~ Pendekatan kontroversial Swedia yang memerangi corona melalui strategi kekebalan kelompok atau herd immunity dinilai gagal. Pemerintah diminta mengubah metode yang hasilnya tak sesuai harapan itu.

“Kami memiliki debat politik yang sangat jelas,” ujar Karin Olofsdotter, duta besar Swedia untuk Amerika Serikat, kepada NPR.

“Saya tidak berpikir orang [akan] memprotes di jalan-jalan tetapi … ada perdebatan yang sangat besar, apakah [strategi] ini adalah hal yang benar untuk dilakukan atau tidak, [perdebatan] di Facebook dan di mana-mana.”

Berbeda dengan para jirannya di kawasan Nordik, Swedia sejak awal anti-lockdown.

Pemerintah memang menerapkan pembatasan jarak tapi membiarkan sebagian besar bar, restoran, sekolah, dan toko eceran tetap buka.

Strategi negara, seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Ann Linde pada awal April sangat bergantung pada orang yang mengambil tanggung jawab sendiri.

Melalui strategi kekebalan kelompok diharapkan penduduk berusia muda dan tidak berisiko akan mengembangkan kekebalan terhadap virus, yang berpotensi mengarah pada kekebalan kelompok.

Kekebalan kelompok terjadi saat cukup banyak orang dalam suatu populasi kebal terhadap penyakit tertentu, baik yang telah terinfeksi maupun pulih atau sudah divaksinasi.

Akhir April, kepala ahli epidemiologi di Badan Kesehatan Masyarakat Swedia Anders Tegnell mengatakan, pengambilan sampel dan pemodelan data menunjukkan sekitar 20 persen populasi Stockholm sudah kebal terhadap virus.

Beberapa peneliti telah menetapkan ambang batas untuk kekebalan kelompok virus corona sebesar 60 persen.

Sayangnya, ini tidak akan terjadi di Stockholm.

“Investigasi saat ini menunjukkan angka yang berbeda, tetapi [tingkat kekebalan Stockholm] kemungkinan lebih rendah [dari 30 persen]. Seperti yang Anda ketahui, ada masalah dengan pengukuran kekebalan untuk virus ini,” tulis Tegnell melalui email ke NPR, Senin lalu.

Badan Kesehatan Masyarakat Swedia pekan lalu merilis temuan awal studi antibodi yang sedang berlangsung. Isinya menunjukkan hanya 7,3 persen orang di Stockholm yang mengembangkan antibodi terhadap covid19 pada akhir April.

Angka penelitian itu sedikit lebih rendah dari yang diduga.

Tegnell menambahkan, studi tersebut mewakili gambaran situasi beberapa pekan lalu dan dia percaya sekarang “sedikit lebih dari 20 persen” populasi Stockholm seharusnya sudah terkena virus.

Itu angka yang sama yang disebutkan Tegnell dalam wawancara CNBC lebih dari sebulan yang lalu.

Namun, awal bulan ini, Tegnell mengaku tidak yakin kalau strategi kekebalan kelompok adalah hal yang tepat.

Kematian Tinggi

Hingga Kamis lalu, jumlah kasus corona di Swedia mencapai 23.918, dengan jumlah kematian 2.941.

Tanpa lockdown, menurut data dari Johns Hopkins University, jumlah kematian akibat corona di Swedia mencapai 39,26 per 100 ribu.

Angka itu tidak hanya lebih tinggi dari Amerika Serikat (29,87 kematian per 100 ribu) tapi juga secara eksponensial lebih tinggi dari tetangganya, Norwegia (4,42 per 100 ribu) dan Finlandia (5,56 per 100 ribu), yang memberlakukan lockdown secara ketat.

Pekan ini, protes terhadap strategi anti-lockdown di alun-alun Stockholm menarik perhatian beberapa orang.

Salah satu isi protes berbunyi, “Untuk mengenang semua orang yang Swedia tidak bisa selamatkan dengan strateginya.”

Kedutaan Besar Swedia di Washington dalam pernyataan resmi menyebutkan, pemerintah meyakini masih terlalu dini menarik kesimpulan atau perbandingan yang jelas terkait pandemi corona.

Ekonomi Terpuruk

Selain strategi kekebalan kelompok yang dinilai gagal, tanpa lockdown pun, ekonomi Swedia kini telah terpukul.

Catatan Google menunjukkan perjalanan ke tujuan ritel dan rekreasi di Stockholm turun 23 persen. Sementara jumlah penumpang angkutan umum turun 29 persen antara 28 Maret hingga 9 Mei.

Bank sentral Swedia, Riksbank menyiapkan dua skenario potensial terhadap prospek ekonomi negara pada 2020.

Kedua skenario memprediksi kenaikan tingkat pengangguran dan kontraksi produk domestik bruto negara.

Bank sentral memperkirakan pengangguran meningkat dari 6,8 persen menjadi 10,1 persen. Sedangkan produk domestik bruto menyusut hingga 9,7 persen tahun ini sebagai akibat dari pandemi.[]

Diperbarui pada ( 21 Maret 2024 )

Facebook Komentar

One thought on “Strategi Kekebalan Kelompok Swedia Dinilai Gagal, Ekonomi Tetap Terpuruk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *