Bau Konspirasi di Balik Meme Pesepeda yang Memborong Jalan

Lewat meme itulah, orang-orang kemudian menarik konklusi: ngapain beli sepeda, nanti kau dimusuhi banyak orang.

Ilustrasi pesepeda

~ Ternyata ulah kartel kredit motor, Jon

Beberapa hari belakangan ini, beberapa teman saya memasang meme yang mengejek kelakuan pesepeda yang memborong jalan.

Pesan yang disampaikan lewat meme itu lumayan sengit. Memperlihatkan kepada khalayak bahwa ada rombongan pesepeda yang memborong jalur dengan sombongnya.

Sebelumnya, tanpa sempat menelisik lebih jauh, teman saya sempat juga memajang foto para pesepeda tua yang berkonvoi—mungkin para petani yang menuju sawah—di jalan dengan teratur tanpa memborong jalan.

Tak lama setelah itu, foto para pesepeda tua digabungkan dengan foto yang saya sebutkan di atas.

Ditambahkan pula tulisan yang menjelaskan kalau mereka—yang memborong jalan—adalah lulusan S1, S2, dan STeh. Sementara para pesepeda tua tadi disebutkan sebagai orang biasa, ada yang tak lulus SD.

meme_pesepeda_breedie

Ada semacam kesenjangan sosial yang coba dibenturkan di sini. Namun, pesan yang bisa ditangkap adalah orang berpendidikan rendah lebih tertib ketimbang yang berpendidikan tinggi.

Yang sekolah tinggi arogan, yang tak sekolah tinggi santun. Kira-kira begitu.

Ketika meme ini beredar, nyaris tak ada yang mempersoalkan apakah foto-foto itu asli atau editan? Apakah “yang tak sekolah tinggi” itu betul-betul bersepeda dalam satu baris yang terukur jaraknya?

Mengingat bila melihat di foto, jarak antarsepeda sangatlah dekat. Dibutuhkan kejelian dalam mengatur kecepatan agar konvoi yang sedemikian ramai itu tak tercerai-berai.

Kencang sedikit resikonya menabrak, lambat sedikit tertabrak.

Jika bisa dilakukan dalam waktu tertentu (baca: lama), tentulah para pesepeda itu sangat andal. Dibutuhkan pengalaman mumpuni untuk menjaga ritme konvoi yang bahkan tanpa dipimpin seorang RC alias Road Captain sekalipun.

Luar biasa.

Lalu, foto kedua yang berisi pesepeda memborong jalan, benarkah itu terjadi sepanjang perjalanan? Apakah aksi yang tertangkap kamera dilakukan saat jalan sepi atau ramai? Atau cuma sesaat demi keperluan instastory?

Jika benar dilakukan secara kontinyu, tentulah mereka pesepeda yang arogan. Yang dari rumah niatnya gas tipis-tipis tapi begitu ketemu jalan langsung bermuka tebal.

Apakah mereka salah? Jelas sekali, Mustafa. Mereka patut ditegur karenanya.

Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah mereka semua sudah lulus S2, S3, atau Steh seperti yang disebutkan dalam meme? Jangan-jangan PAUD saja nggak tamat.

Kenapa si tukang meme dengan gampangnya menarik kesimpulan?

Apakah dia tak berpikir, jangan-jangan para pesepeda yang tadi berjejer ke sawah adalah profesor pertanian yang kini memilih hidup di desa sebagai petani.

Mereka paham betul aturan lalu lintas dan menghargai pemakai jalan yang lain. Karena itu mereka berbaris laksana semut menuju sarang.

Ditambah lagi, ini sih kurang ajar, si pembuat meme menyamaratakan setiap petani adalah lulusan SD, bahkan ada yang tidak bersekolah?

Inilah stereotip yang (harus diakui) telah lama dan masih menggetah dalam pola pikir kita kebanyakan, terserah saudara pendidikannya S berapa.

Namun, terlepas dari aksi main pukul ratanya, meme tersebut sukses mempropagandakan kalau pesepeda itu tidak baik. Oke, kalaupun baik itu cuma beberapa.

Bila dibiarkan terus beredar, meme semacam itu akan merusak persatuan dan kesatuan di antara pengguna jalan lainnya. Bisa jadi, gara-gara meme tersebut, makin banyak orang yang kesal dengan pesepeda.

Baca Juga: Meme-meme Receh Piala Dunia

Teman-teman saya yang memajang meme tersebut bukanlah goweser, kalau enggan menyebutnya sebagai orang yang akrab dengan sepeda saban hari.

Mereka lebih memilih transportasi lain semisal sepeda motor atau mobil. Dan itu tidak salah.

Sebagai pesepeda, saya pun tidak perlu mengurut dada melihat meme tersebut walaupun isinya memang sangit sengit.

Yang mungkin tidak disadari adalah, kelakuan-kelakuan begitu tidak hanya terjadi sekarang. Sejak dulu ada pesepeda busuk macam begitu. Yang menganggap jalan adalah milik moyangnya.

Kenapa meme itu baru muncul dan dipajang sekarang?

Pertama, itu tak lain karena saudara sudah terlalu lama berada di rumah. Ini efek terlalu lama di-WFH-kan.

Saudara jadi terlalu banyak punya waktu merenung. Akibatnya, hal-hal tak penting seperti itu pun bikin galau.

Walaupun saya yakin, saudara tidak pernah sekali pun menemukan para pesepeda usil seperti yang ternukil dalam meme itu saat berkendara di jalan.

Bahkan, bisa jadi, saudara cuma mendengar kelakuan itu dari orang lain yang juga mendengarnya dari orang lain__yang juga tidak melihat langsung. Karena ikut panas telinga, saudara pun memasang meme itu.

Kedua, tanpa saudara sadari meme macam begitu sengaja ditebar oleh kartel kredit sepeda motor.

Postingan itu bagian dari ulah konspirasi global yang mereka lakukan demi menjatuhkan pamor sepeda.

Apa saudara tidak tahu, selama pandemi ini orang tak boleh ke mana-mana? Di Jakarta misalnya, ojek online dilarang mengangkut sewa.

Selain itu, cara cepat memperoleh sepeda motor adalah dengan ngutang kredit. Tapi, PSSB yang berlaku membatasi gerak sepeda motor. Jadi, untuk apa orang kredit motor kalau tak boleh keluyuran?

Akibatnya, bisnis kredit motor pun macet.

Baca Juga: Bahagia dan Sedih Menjalani Kerja dari Rumah

Ditambah lagi, ketika WFH, pemerintah menganjurkan orang berolahraga. Hmm, olahraga di rumah? Berapa lama tahan? Iya kalau punya treadmill, alat angkat beban, gerobak sorong, dan perkakas fitnes lainnya.

Tapi lama-lama kan boring, Wack. Pantat gatal ingin melalak cari keringat di tempat terbuka.

Dipilihlah sepeda. Cukup pakai masker, gowes. Kalau bersua petugas PSBB, alasannya berolahraga. Mereka percaya.

Coba kalau saudara naik motor untuk alasan yang sama, pasti disuruh putar balik. Mana ada sepeda motor yang bisa dikayuh?

“Disuruh di rumah saja, bandel Khe!” repet petugasnya. Apalagi kalau motornya nggak lengkap, ditilang pasti. Kasihan, kan?

Melihat fenomena itu, kartel meradang, dong. Bisnis mereka terancam unpublish atau cuma jadi draf selama pandemi.

Dari situ mereka beraksi, menyusun rencana, dan mempengaruhi banyak orang kalau ada pesepeda yang kelakuannya minor, dan karena itu harus diberantas jadi musuh bersama.

Lewat meme itulah, orang-orang kemudian menarik konklusi: ngapain beli sepeda, nanti kau dimusuhi banyak orang. Ah, kalau beli pun harus yang mahal, bermerek P minimal, biar nggak minder kalau konvoi.

Saudara boleh tak percaya akan apa-apa yang saya utarakan karena ini bukanlah sebuah kewajiban.

Tapi saudara punya jari boleh pakai untuk cari tahu di internet, barang apa yang lebih banyak laku selama corona ini, sepeda motorkah atau kereta anginkah?

Mudah-mudahan dari penjelasan singkat ini saudara sadar kalau saudara tanpa sadar telah dikibuli si pembuat meme.

Secara tak langsung pula, saudara telah menyaru bujer kartel kredit motor. Tanpa dibayar, hiks.

Satu sisi, meme itu memang berisi pesan positif dalam memberikan pelajaran kepada para pesepeda yang gemar memborong jalan, slonong boy, bahkan tak kasih kode kalau belok.

Namun, tak berarti semua pesepeda senakal yang dijabarkan meme tersebut. Lebih banyak lagi pesepeda santun, yang sesekali bahkan menjadi korban pemotor atau pemobil.

Jika saudara seorang pemotor, ada waktunya akan bertemu mobil-mobil yang mengambil jalur sepenuh hati saat menyalip kendaraan sebangsanya dengan kecepatan tinggi.

Mobil-mobil itu tak peduli saudara sedang khusyuk di jalur sendiri. Walaupun hati cenat-cenut, saudara terpaksa minggir daripada masuk IGD, ya kan?

Begitu juga jika saudara bermobil, pasti gemez melihat pemotor yang melintas dari sisi kiri. Atau menyalip tiba-tiba tanpa kasih lampu sein. Atau geber-geber gas ketika lampu merah. Atau, memborong satu lajur di jalan yang sempit.

Jadi, bila ingin menyalahkan pesepeda hedon yang bergerombol di jalanan, salahkan juga pemotor dan pemobil. Biar adil.

Jangan langsung tarik gas menyamaratakan pesepeda itu menjengkelkan, hanya karena saudara pemotor atau pemobil.

Pada intinya, semua pemakai jalan berpotensi mencederai sesama anak bangsa pengguna jalan yang lain. Ini hukum alam di negara kita yang aturan lalu lintasnya masih belum mengena betul di hatiku dan hatimu.

Yang terpenting lagi, hindarilah stereotipe karena kita semua punya porsi kebodohan masing-masing. Tinggal lagi, mau kita pakai atau tidak kebodohan itu.

Terakhir, bila saudara telah terlanjur memajang meme tadi, saya cuma mau bilang maafkan pesepeda-pesepeda tersebut.

Perlu saudara ketahui, mereka cuma goweser pencari keringat, bukan pesepeda yang rutin memakai sepeda sebagai alat transportasi.

Baca Juga: Bersepeda Tanpa Alasan, Sebuah Langkah Progresif Menikmati Hidup

Mereka cuma bersepeda saban akhir pekan, bersama teman-teman sekantor. Sesudah itu akan mampir di warung kopi, foto bersama, unggah di medsos, selesai.

Sudah pasti, mereka memakai sepeda mahal karena umumnya orang-orang yang berduit.

Jadi, kalau sesekali memborong jalan, maafkanlah mereka karena sepanjang pekan dihimpit oleh rutinitas. Akibat tekanan pekerjaan, mereka bosan dan pelariannya ke situ.

Jika saudara nanti bertemu gerombolan seperti itu lagi di jalan, datangi, dan ingatkan baik-baik agar lebih sopan dalam berkendara. Bila perlu, elus pipinya. Demikian.

Diperbarui pada ( 3 Maret 2024 )

Facebook Komentar

4 thoughts on “Bau Konspirasi di Balik Meme Pesepeda yang Memborong Jalan

  1. Menurut guru besar FSRD ITB Prof DR Primadi Tabrani, sepeda adalah satu-satunya kendaraan temuan umat manusia yang masih memanusiawikan manusia. Sebab, kata beliau, kalau kita naik sepeda kita tidak akan menyengaja menggilas genangan air agar menyiprat pada orang yang tengah berjalan di pinggir. Tapi begitu kita menunggang motor, apalagi mobil…. Tengoklah, mendadak tak ada lagi makhluk yang lebih penting di dunia ini selain diri kita sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *