Breedie

Bukan situs luar negeri, berisi konten yang easy but spicy



About page

© 2021 Breedie - All Rights Reserved

I’m Still Here — Chapter 20

Didengarnya suara orang bergulat, kuda-kuda kanvas berjatuhan, kemudian dentam berat sesuatu menimpa lantai.

Novela Misteri I'm Still Here. Ilustrasi: Freepik
Novela Misteri I’m Still Here. Ilustrasi: Freepik

Saat itu lelaki yang dipeluk Tante Hanum, yang rupanya anaknya, mengerang keras. Semua orang terperanjat. Erangan itu disusul geraman, yang kemudian meningkat menjadi raungan. Tante Hanum mencoba menenangkannya. Sia-sia. Lelaki itu memegangi kepalanya, menyembunyikan wajahnya dalam lekukan lengan, berusaha membuat tubuhnya sekecil mungkin. Erangannya terus terdengar. Ia terdengar begitu kesakitan hingga air mata Nada mengembang, tak tega.

Perempuan tua mungil di sebelah sana memandangi adegan itu dengan ekspresi tak dapat diukur. Sedih, prihatin, bercampur gemas dan kesal. Akhirnya ia menggumam pelan, “Saya telepon dokter Hadi, ya, Gan.”

“Nggak usah!”

Tante Hanum bicara lembut dengan anaknya, berusaha menenangkannya, sementara si anak meringkuk seperti kelinci yang ketakutan seraya mengerang dengan suara tidak insaniah. Pemandangan itu sangat menusuk hati.

“Apa…. ia sudah lama seperti ini, Bu?” Ronggur bicara perlahan, menatap si perempuan tua mungil.

“Sejak… lulus SMA,” yang ditanya menarik nafas panjang. “Aku datang ke sini waktu Dang Surya keluar klinik pertama kali.” Perempuan tua itu melirik Ronggur. “Sebelum aku datang, Gan Ardi, ayah Dang Surya, yang biasanya merawat Dang Surya. Setelah itu, semua keperluan Dang Surya aku yang mengurus. Termasuk obat-obatannya.”

Ia berhenti sebentar, nampak amat prihatin. “Neng Nada, maafkan Dang Surya, ya. Dang Surya suka padamu. Tapi sudah lama ia tidak tahu bagaimana caranya bergaul dengan orang lain.”

Nada tidak bisa berkata-kata. Ditatapnya lelaki dalam pelukan Tante Hanum.

“Sebetulnya dia sakit apa?” Nada mengulang tanya. Lirih. Perempuan tua itu menarik nafas panjang.

“Bibi rasa neng Nada bisa menduga,” ia tersenyum sedih. “Namaku Purnamasari. Dang Surya keponakan sekaligus pasienku. Ia didiagnosa skizofrenia paranoid waktu mulai masuk perguruan tinggi. Kemudian Dang Surya keluar dari rumah sakit, aku diminta Gan Ardi setiap hari datang kemari, membantu merawat Dang Surya sehari-hari.”

“Heh, diam, Ceu Pung! Siapa suruh Ceu Pupung ngoceh?!” bentak Tante Hanum. Perempuan tua itu menatapnya sebentar. Tapi kemudian kembali memandang Ronggur dan Nada.

“Sudah terlalu lama,” katanya getir. “Aku tak bisa diam lagi. Dang Surya harus ditolong.” Ia menghembuskan nafas panjang. “Bantu aku meyakinkan Gan Enung bahwa Dang Surya memerlukan bantuan obat-obatan secara rutin agar gejala sakitnya bisa dikontrol. Gan Enung tak mau mengambil resep obat-obatan itu lagi. Kalian lihat sendiri akibatnya.”

Perlahan Nada mulai memahami, bahwa Gan Enung itu tentunya Tante Hanum. Putranya bernama Surya, yang disebut Gan Ardi mestinya ayah Surya, suami Tante Hanum. Dari pembicaraannya, perempuan tua yang mengaku bernama Purnamasari alias Pupung ini mestinya seorang perawat psikiatri.

“Kenapa?” Nada tak tahan untuk tak bertanya. “Kenapa obat-obatannya tidak diambil lagi?”

Bu Pupung mengerling Tante Hanum.

“Menurut Gan Enung obat-obatan itu bahan kimia yang hanya akan meracuni dan merusak otak Dang Surya. Menjadikannya tergantung, ketagihan. Gan Enung lebih percaya pada pengobatan herbal, dan air yang diberikan orang pintar. Menurutnya lebih bagus karena tak ada efek sampingnya,” kata Bu Pupung. Ia terdengar sangat sedih dan putus asa.

“Selama dirawat di rumah sakit, kemudian di klinik swasta tempatku bekerja, kondisi Dang Surya membaik. Kami memberinya terapi melukis… Itu membantu mengendalikan waham dan halusinasinya. Neng Nada lihat lukisan-lukisan di rumah? Semua buatan Dang Surya sewaktu di klinik…. Dia senang melukis taman di luar kamarnya. Makanya Gan Ardi kemudian mengubah kamar belakang ini jadi studio lukis, supaya Dang Surya tetap bisa melihat pepohonan, seperti di klinik. Aku tinggal di kamar sebelah, agar bisa selalu menjaga Dang Surya.”

Bu Pupung menelan ludah, melanjutkan, “Gan Ardi meninggal empat tahun lalu. Kemudian–” Bu Pupung menatap Tante Hanum. Yang ditatap tak peduli, terus membelai wajah anaknya.

“Gan Enung tak bersedia membawa Dang Surya kontrol ke dokter lagi. Akibatnya, beberapa tahun terakhir ini episode psikosis Dang Surya memburuk. Kalau tengah kambuh, Dang Surya melihat mata di mana-mana. Ia merasa dikejar-kejar, akan dibunuh. Kalau sudah begitu, ia bisa berhari-hari tidak tidur, tidak makan, karena takut diracuni. Ia hanya mau keluar studionya kalau sudah malam. Atau keluar lewat–” Bu Pupung melirik lemari besar yang menutupi jalan rahasia ke paviliun. “Lewat lorong rahasia itu. Jalan itu dibuat komandan bangsa Jepang yang dulu menempati rumah ini. Gan Ardi memperbaikinya, karena Dang Surya suka main petak umpet di dalamnya.”

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 19

“Ibu tahu di ruang bawah tanah itu ada—anu… ?” Nada teringat kerangka di kamar perlindungan bom.

Bu Pupung terisak kini.

“Ya,” suaranya tersendat. “Kami tahu. Dang Surya memukuli kedua orang itu dengan balok kayu dan pipa besi. Ia bilang keduanya adalah mata-mata Belanda, yang mengejar dan akan membunuhnya. Dang Surya–” Dihapusnya air yang berlinang ke pipinya. “Kalau wahamnya kambuh, Dang Surya mengira dirinya Sukarno muda. Ia yakin bangsa Belanda sedang mengincarnya.”

“Gan Enung menyuruh kami semua untuk tutup mulut tentang pasangan di paviliun itu. Kawan-kawan yang bekerja di sini, tukang masak, tukang cuci, supir, tukang kebun, semua diberi uang agar tak bicara apa-apa. Tapi mereka semua ketakutan. Menganggap bahwa Dang Surya kerasukan roh jahat. Jadi suatu malam mereka semua kabur meninggalkan rumah ini.” Bu Pupung menarik nafas panjang. “Aku sudah berusaha agar Gan Enung mau membawa Dang Surya ke rumah sakit lagi, tapi Gan Enung menolak.”

“Kalian pikir aku ikhlas membiarkan Surya digabungkan dengan orang gila??” mendadak Tante Hanum menjerit. “Kalian pikir bagaimana perasaan seorang ibu, melihat anaknya satu ruangan dengan orang-orang yang mengurus tahinya sendiri saja tidak bisa??”

Tante Hanum makin erat mendekap Surya. “Surya tidak sakit. Pokoknya tidak. Tidak seperti mereka. Obat-obatan herbal yang kuberikan bisa menyembuhkannya. Obat kimia hanya akan merusak otaknya dan membuatnya lebih menderita!”

Nada menangkap gerakan di sudut gelap ruangan. Ia menoleh. Dilihatnya Rina berjalan menghampiri. Gadis itu berhenti di dekat sebuah kanvas, matanya menatap ke arah Tante Hanum dan Surya. Wajahnya pucat, nampak seperti sedang menahan rasa sakit. Sementara itu Bu Pupung bicara lagi, suaranya sedih, namun juga bercampur amarah.

“Obat-obatan itu membantu meringankan gejala dan episode psikosisnya, Gan Enung tahu itu!” sergahnya. “Selama Gan Ardi masih jumeneng, dan Dang Surya masih minum obatnya, Gan Enung tidak pernah direpotkan oleh kami, kan? Gan Enung selalu bisa ke kantor, ke Singapura, Hong Kong, San Francisco, ke mana-mana tanpa harus ketakutan memikirkan Dang Surya, kan?!”

Nada tidak tahu bahwa sinar mata seseorang dapat sekelam itu. Tante Hanum membuang muka. Air jernih mulai berlinang di sepasang mata Bu Pupung.

“Sudah cukup, Gan Enung,” suara Bu Pupung bergetar. “Dang Surya perlu obat dan istirahat.” Perempuan sepuh itu berbalik, keluar ruangan. Hanya sebentar. Ia segera kembali, membawa tabung injeksi. Melihat jarum, Nada sontak mundur. Bergeser ke belakang punggung Ronggur.

Bu Pupung menghampiri Surya, yang masih meringkuk dalam pelukan ibunya. Tante Hanum membeliak.

“Jangan berani-berani menyuntik Surya!” teriaknya. Bibir Bu Pupung menipis.

“Berhenti menyiksa dia, Gan,” desisnya. “Sekarang minggir.”

“Tidak!”

Saat itu Surya mendongak, melihat berkeliling. Nada merinding menangkap sinar matanya yang kosong, dalam tak terukur. Lelaki itu menatap Nada, lalu tatapnya beralih, pada Ronggur. Seketika, suatu cahaya lain menyala dalam mata itu.

“Kamu!” raungnya. “Kamu mau membunuhku! Mau merebut Inggit dariku!” Tante Hanum menjerit, Surya meronta, melepaskan diri dari pelukan ibunya dan melompat menerkam Ronggur. Nada juga terpekik. Refleks menjatuhkan diri ke lantai, menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.

Didengarnya suara orang bergulat, kuda-kuda kanvas berjatuhan, kemudian dentam berat sesuatu menimpa lantai. Suara-suara hantaman teredam, Surya menggeram dan berteriak. Terdengar juga suara Bu Pupung mengatakan sesuatu. Kemudian berhenti. Hanya suara nafas terengah-engah.

Komentar

Terpopuler Sepekan