Breedie.com

Bukan situs luar negeri,
berisi konten yang easy but spicy



Sajian Fiksi

Profile

© 2021 Breedie - All Rights Reserved. RSS Webdev

Aku, Lek Rohim, dan Perempuan Berbody Fanta Itu

Menjelang pemilu, kata Lek Rohim, dia dan para rekan se-pekerjaan kerap diajak meriung ke sebuah teratak oleh orang-orang yang you-must-know-lah-what-i-mean.

Ilustrasi
Ilustrasi

~ Kelak, perempuan bergincu merah itu mungkin akan bertemu lagi denganku atau Lek Rohim

Sebuah Jazz warna biru metalik melejit, berbelok di pengkolan lalu berhenti depan minimarket. Seorang pria paruh baya berkaca mata hitam polarized a la retro cop keluar dari mobil disusul wanita bergincu merah maroon. Bibir wanita itu retak-retak. Mungkin sariawan. Pakaiannya ketat sekali. Pinggulnya melekuk persis botol fanta.

Wanita itu melenggang–tak ubah kucing betina sedang jalan (baca: catwalk)–masuk ke dalam minimarket. Tas tangan cokelat tua (mungkin) dari kulit biawak diapit di tangan kanan. Sebuah gelang emas (mungkin) bermotif naga melilit di tangan kiri. Sementara si lelaki tak ikut masuk. Dia hanya menunggu di luar minimarket sembari berkacak pinggang.

Karena bosan, si lelaki yang brewoknya nauzubillah ini lantas menggulir-gulir layar hape dengan jempolnya. Entah konten apa yang dilihat, tiba-tiba ia terkekeh. Perbuatan gulir-menggulir itu berlangsung serokok saja sampai si wanita keluar dari minimarket sambil menjinjing kantong kresek penuh belanjaan.

Waktu itulah, kali pertama aku bertemu Lek Rohim. Ia duduk tepekur di antara dua batang lantana camara muda, yang terletak hanya selang satu ruko dari minimarket. Di sampingnya terdapat setumpuk kardus.

Lek Rohim seorang juru parkir kawakan. Sepeda motor yang lalu lalang, kakofoni dari knalpot pengendara yang pongah; dua hal yang ditangkap sepasang mata dan telinganya, saban hari.

“Kenapa harus aku bayar? Kan sebentar? Di mana-mana parkir, di mana-mana parkir,” wanita bergincu itu mencak-mencak lalu melempar uang seribuan ke muka Lek Rohim, lantas menutup kaca Jazz-nya yang full ase.

Dimaki orang-orang seperti itu sudah biasa bagi Lek Rohim. Dia bahkan sering tak mendapat bayaran sama sekali. Tak jarang, Lek Rohim hanya diberi sekeping uang logam 200 perak sisa kembalian dari kasir cantik minimarket–yang selalu setia mengatakan, “Uang kembaliannya permen ajjah boleh?”–yang tak laku bahkan untuk membeli sebutir kacang ijo.

Jika beruntung, ada yang memberinya selembar ribuan koyak. Paling ekstrem, di antara yang koyak-moyak itu ada yang lambang pancasila-nya hilang. Namun, untuk semua perlakuan dari pengguna parking lot itu, Lek Rohim hanya mengelus dada. Tak pernah sekali pun ia membalas semua perlakuan tersebut. Kesabaran Lek Rohim sudah menyerupai guru TK.

Hari itu, kepada saya yang jomblo dan sangat kesepian tapi tetap bahagia karena doa dan keyakinan ini, Lek Rohim curcol alias curhat colongan. Yang dia keluhkan bukan soal-soal di atas tadi, melainkan tentang politik.

Menjelang pemilu, kata Lek Rohim, dia dan para rekan se-pekerjaan kerap diajak meriung ke sebuah teratak oleh orang-orang yang you-must-know-lah-what-i-mean. Di bawah teratak sewaan yang tiang-tiangnya berkarat itu, Lek Rohim and partner’s dijamu sebungkus nasi dan sekotak kue murah. Selama perjamuan, orang-orang itu menebarkan senyum termanis yang mereka punya. Setelah kenyang dan geureuop, Lek Rohim dkk diberikan suvenir kaos dan kartu nama yang juga beremblem murah, untuk dibawa pulang.

Namun, yang paling murahan, saat Lek Rohim cs disosori muncrat ludah omong kosong bau jigong berselimut visi misi. Di akhir pidato yang kadang berapi-api itu, tak lupa orang-orang itu menaruh doa dan harapan agar mimpi duduk di takhta kelak tercapai. Dalihnya, demi kebaikan umat.

https://www.instagram.com/p/Bu0eeOKBdnY/

“Masih gini-gini aja,” Lek Rohim tersenyum kecut. Dia lalu bangkit mengumpulkan lipatan kardus yang berserak. Mengingat hari sudah setengah enam menjelang petang, azan Magrib ‘kan berkumandang.

Sesaat kemudian, Lek Rohim menyeberang jalan sembari memberi kode agar pengendara jangan cepat-cepat kali. Lima menit sesudah itu, Lek Rohim keluar dari samping sebuah ruko bersama sekarung goni penuh plastik bekas.

“Kalau plastik itu Rp2 ribu. Jualnya di samping samping terminal. Sehari lumayanlah. Buat beli beras.”

Selain parkir, mengais sampah untuk mencari plastik bekas telah lama dilakoni Lek Rohim. Bahkan untuk separuh hidupnya. Ia punya tanggungjawab besar selaku kepala keluarga. Seorang istri tunadaksa, dua anak yang putus sekolah, menjadi alasan mengapa terkadang Lek Rohim belum pulang hingga larut malam tiba.

“Karena itu saat lagi sepi-sepinya kan? Dan masih bisa banyak dapat [plastik],” sebut lelaki kelahiran 1964.

Ihsan, anak Lek Rohim yang paling bontot ikut menopang tonggak rapuh ekonomi keluarga. Sementara abangnya jadi buruh dodos di perusahaan sawit.

Ihsan menjadi juru parkir di samping sebuah pusat rekreasi keluarga yang juga tempat bermain anak. Tempat itu persis mimpi buruk. Di saat anak-anak seumurannya bermain riang ditemani ayah dan bunda, yang Ihsan lakukan cuma menelan ludah sembari mengkhayal saja.

Ketika burung pipit hampir semua tiba di sarangnya, Lek Rohim semakin menjauh bersama becak barang soak miliknya. Mata tua itu tampak lelah. Angannya singgah di meja-meja restoran, lapak penjual roti bakar, toko-toko pakaian, kafe-kafe, baliho caleg, dan bendera partai.

Sepekan setelah pertemuan dengan Lek Rohim, aku menemukan segepok kartu nama seorang caleg perempuan teronggok di atas salah satu meja tempat biasa kuminum kopi. Wajah perempuan di kartu itu bikin aku ingat botol fanta.

Komentar

Terpopuler Sepekan