Breedie

Bukan situs luar negeri, berisi konten yang easy but spicy



About page

© 2021 Breedie - All Rights Reserved

Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Sebelas

"Nana, dari mana kamu tau kalau rumahmu berhantu?" Dinda mengungkit. Saat itu mereka sudah di kamar, berkemas untuk menghadapi akhir pekan di rumah.

Dinda gadis grafiti.@Ilustrasi Fathia Nash
Dinda gadis [email protected] Fathia Nash

“Itu abangmu?” tanya Nana, yang ikut melihat keluar jendela. Saat itu guru Fisika sedang keluar kelas, sehingga kedua gadis itu bisa meninggalkan bangku mereka. Dinda mengangguk.

“Yang di belakang itu Icat. Adikku. Dia di SMP Harsa,” tambah Dinda. Nama asli Dedek adalah Isryad Ali. Tapi semua orang memanggilnya Icat.

“Abangmu cakep,” Nana mengikih pelan. Tercengang, Dinda menatap temannya.

“Abangku? Cakep??” tak pernah terpikir oleh Dinda bahwa gadis lain akan menganggap abangnya ganteng. Ini membuatnya takjub. Seperti ada sebuah jendela yang mendadak terbuka dalam kepalanya. Memasukkan sinar pengetahuan baru.

“Abangmu kayak tokoh drakor,” Nana mengikih lagi. “Itu ayahmu?”

“Yang tua dan brewokan? Ya. Itu Ayah,” ujar Dinda ketus.

“Ayahmu nggak tua, ah,” kata Nana. “Sepertinya sebaya dengan ayahku.”

Dinda menemukan topik untuk mengalihkan percakapan dari ketiga lelaki dalam keluarganya.

“Ayahmu mana?” tanyanya. “Belum datang?”

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Kesembilan

Dinda tidak siap reaksi yang ditunjukkan Nana saat mendengar pertanyaan itu. Seperti matahari yang mendadak tertutup mendung, cahaya menghilang dari wajah dan suara Nana.

“Ayahku nggak akan datang,” katanya. “Aku nggak ke Meulaboh pekan ini. Tapi ke rumah.”

“Oh,” Dinda agak tergugu. Tapi rasa ingin tahunya memaksa lidahnya bertanya lagi. “Rumahmu di mana? Boleh aku main ke rumahmu?”

“Itu bukan rumahku,” suara Nana mendadak dingin dan kaku. “Itu rumah Papi.”

“Hah?” Dinda tidak mengerti. Nana mendesah.

“Kamu memang nggak tahu,” katanya enggan. “Papi–dia ayah tiriku.”

“Oh.” Dinda tertegun.

“Orangtuaku pisah waktu aku TeKa,” ujar Nana lirih. “Aku dan Mama pindah ke Jakarta. Di sana Mama ketemu Papi.”

Dinda menangkap gema luka yang dalam pada suara Nana.

“Kamu nggak usah cerita kalau nggak mau, Na,” kata Dinda cepat-cepat. Nana menunduk, tapi ia melanjutkan bicaranya.

“Nggak apa-apa. Aku pengen kamu tau. Kamu satu-satunya teman yang merhatiin aku.” Nana menghela nafas. “Waktu aku TeKa itu, Ayah kecelakaan. Mobilnya disambar truk di jalan raya menuju Banda Aceh.” Ada getar halus perlahan merambat ke dalam suara Nana. “Tiga ruas tulang pinggang Ayah, juga sambungan tulang paha ke pinggul, remuk. Ayahku nggak bisa berjalan lagi. Dia lumpuh dari pinggang ke bawah.”

Nana mendorong kaca matanya ke puncak hidung.

“Ayah nggak bisa lagi kerja di kantornya yang lama. Setelah Ayah keluar dari Rumah Sakit, Mama jadi makin sering marah-marah. Aku dikeluarkan dari sekolah. Mulanya Mama sering mengajak aku kalau ia kerja, merias pengantin. Tapi lama-lama aku lebih sering di rumah, menjaga Ayah,” Nana menelan ludah.

“Sampai akhirnya suatu hari Mama mendadak menjemput aku. Waktu itu aku lagi membelikan makan siang buat Ayah. Tahu-tahu Mama muncul. Aku dipakaikan baju baru, jaket baru, sepatu baru. Lalu dinaikkan ke mobil yang sudah menunggu. Ternyata hari itu kami berangkat ke Banda Aceh, dilanjutkan pesawat ke Jakarta.” Air mata tersembul dari celah bulu mata Nana.

“Waktu itu aku nangis menjerit-jerit karena aku nggak mau ninggalin Ayah. Aku takut sekali nanti Ayah kenapa-kenapa kalau aku nggak ada. Mama suruh aku diam. Katanya Ayah bakal baik-baik saja tanpa aku. Tapi sepanjang jalan menuju Jakarta aku nggak bisa berhenti nangis.”

“Ya Allah… Na….” Dinda meraih tangan sahabatnya. Tangan itu sedingin logam. Nana membiarkan Dinda menggenggam tangannya.

“Kami tinggal di Jagakarsa,” ujar Nana lagi. “Di rumah petak satu kamar. Aku nggak tau Mama kerja di mana selama kami di Jakarta. Yang jelas aku jarang ketemu Mama. Dia selalu pergi pagi, pulang malam. Aku dijaga orang yang gonta-ganti. Sekali-sekali pengasuh, lebih sering dititipkan pada ibu kawanku, tetangga dekat rumah. Lalu Mama menikah dengan Papi.”

Dinda merinding. Sebab suara Nana mendadak mengandung nada benci yang sangat.

“Setelah Mama nikah lagi kami pindah ke rumah Papi. Aku punya kamar sendiri, pengasuh tetap, mainan seubra. Tapi aku nggak suka rumah itu. Rumah itu seram–” mendadak Nana berhenti. Karena saat itu pintu kelas membuka, dan Ms Ghia, guru Fisika sekaligus wali kelas mereka, masuk.

“Rumahmu seram? Kenapa??” Dinda mencoba mendesakkan pertanyaan terakhir sebelum keduanya bergegas kembali ke bangku masing-masing.

“Ada hantunya,” desis Nana. “Nanti kuteruskan. Ayo, duduk.”

“Hah? Hantu??”

“Sst.”

Nana tidak mau bicara lagi betapa pun Dinda mendesak. Dinda terpaksa menunggu hingga sekolah bubar dan mereka kembali ke Asrama, bersiap pulang.

“Nana, dari mana kamu tau kalau rumahmu berhantu?” Dinda mengungkit. Saat itu mereka sudah di kamar, berkemas untuk menghadapi akhir pekan di rumah.

“Pokoknya aku tau,” kata Nana.

“Kok bisa? Ada penampakan?”

“Gitulah,” Nana menghindar. Keduanya selesai berkemas, berjalan keluar kamar menuju halaman, tempat para orangtua menunggu. Dinda langsung melihat SUV double cabin hitam Ayah dan lambaian penuh semangat dari Dedek.

“Igh, makhluk itu selalu gembira, no matter what,” geram Dinda, iri pada kemampuan sang adik untuk selalu optimis. Nana tersenyum.

“Kan bagus begitu. Aku ingin bisa begitu,” katanya.

“Yeeeeaaah….” Dinda menggumam panjang. “Kamu sudah dijemput? Mana Mamamu?” jujur, mendengar cerita Nana tadi Dinda jadi sangat ingin berkenalan dengan ibu temannya itu.

“Mama nggak pernah jemput aku. Yang jemput selalu Papi,” sahut Nana.

“Oh,” Dinda mengangkat alis. Yang mana, ya, papinya Nana itu?

Pertanyaannya segera terjawab. Saat tiba di lapangan parkir tamu, Nana melangkah pelan ke arah sebuah SUV mewah bercat keemasan.

“Itu mobilmu?” tanya Dinda.

“Mobil Papi,” Nana mengoreksi dengan suara masam.

“Yayaya… Mobil Papi-mu kan mobilmu juga?” Dinda mencoba bercanda.

“Nggak. Bukan. Mobil Papi ya punya Papi. Aku nggak punya apa-apa di rumah itu. Cuma numpang tidur,” sergah Nana lirih. Dinda terpana sejenak. Saat itu keduanya sudah berada dekat SUV Ayah dan SUV keemasan tadi. Dedek keluar dari mobil, berseri-seri menyapa Dinda. Saat itu pintu di bangku penumpang depan SUV keemasan juga dibuka dari dalam. Tapi tak ada yang keluar. Nana berhenti.

“Aku masuk ke mobil ya Din,” kata Nana. Suaranya terdengar begitu tegang dan aneh. Seperti seseorang yang akan berjalan ke tempat hukuman.

“Tunggu Na, ayo kenalan dengan cowok-cowok keluargaku dulu!” seru Dinda. Nana tak jadi masuk mobilnya. Berbalik kembali ke arah Dinda. Dinda menariknya ke arah bagian depan mobil ayahnya.

“Ayah! Abang!” seru Dinda. “Kenalkan! Ini Nana!”

Telinga Dinda gatal sendiri mendengar suaranya yang baginya sangat ketara dibuat-buat. Tapi Bang Tareq menanggapi dengan sangat baik.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Sepuluh

“Oh, halo Nana,” diulurkannya tangan. Malu-malu Nana menyambut. Kemudian Ayah juga mengulurkan tangan. Senyum Ayah asli hangat dan bersahabat sekali.

“Hai,” kata Ayah. “Kamu sekelas dengan Dinda?”

“Ya, Paman. Sekamar juga,” sahut Nana. Lirih sekali. Aneh, dia kelihatan agak takut menghadapi Ayah dan Bang Tareq. Gayanya seperti kucing gelandangan yang takut ditendang orang. “Euh… Permisi Paman, itu Papi sudah menjemput.”

“Nanti aku telepon ya, Na,” kata Dinda sebelum Nana masuk mobilnya. Nana mengangguk. Sekilas Dinda melihat laki-laki yang duduk di belakang kemudi. Kulitnya putih dan wajahnya tampan. Ia mengenakan kemeja dan celana jins yang tampak mahal.

Laki-laki itu tersenyum pada Dinda. Melihat senyum itu, entah kenapa mendadak tengkuk Dinda merinding. Seperti kena jamah setan jadi-jadian.

(Bersambung ke Bagian Dua Belas)

Komentar

Terpopuler Sepekan